iklan

Sabtu, 04 Februari 2012

PERAN DAN TANGGUNG JAWAB BIDAN

Beberapa dari tanggung jawab bidan adalah sebagai berikut:
  1. Menjaga agar pengetahuannya tetap up to date, terus mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan kemahirannya agar bertambah luas, serta mencakup semua aspek dari peran seorang bidan.
  2. Mengenali batas-batas pengetahuan, keterampilan pribadinya, dan tidak berupaya melampaui wewenangnya dalam praktik kliniknya.
  3. Menerima tanggung jawab untuk mengambil keputusan dan konsekuensi dari keputusannya tersebut.
  4. Berkomunikasi dengan pekerja kesehatan profesional lainnya (bidan, dokter, perawat) dengan rasa hormat dan martabat.
  5. memelihara kerja sama yang baik dengan staf kesehatan dan rumah sakit pendukung untuk memastikan sistem perujukan yang optimal.
  6. Kegiatan memantau mutu yang bisa mencakup penilaian sejawat, pendidikan berkesinambungan, serta kaji ulang kasus-kasus dan audit maternal/perinatal.
  7. Bekerja sama dengan masyarakat di mana ia berpraktik untuk meningkatkan akses dan mutu asuhan kesehatan.
  8. menjadi bagian dari upaya untuk meningkatkan status wanita serta kondisi hidup mereka dan menghilangkan praktik-praktik kultur yang sudah terbukti merugikan kaum wanita.

STANDAR ASUHAN KEHAMILAN

  • Standar I: Identifikasi Ibu Hamil
Bidan melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi dengan masyarakat secara berkala untuk memberikan penyuluhan dan meotivasi ibu, suami, dan anggota keluarganya agar mendorong ibu untuk memeriksakan kehamilannya sejak dini secara teratur.
  • Standar II: Pemeriksaan dan Pemantauan Antenatal
Bidan memberikan sedikitnya 4 kali pelayanan antenatal. Pemeriksaan meliputi anamnesis serta pemantauan ibu dan janin dengan seksama untuk menilai apakah perkembangan berlangsung normal. Bidan juga harus mengenal kehamilan risiko tinggi, khususnya anemia, kurang gizi, hipertensi, PMS/infeksi HIV, memberikan pelayanan imunisasi, nasihat, dan penyuluhan kesehatan, serta tugas terkait lainnya yang diberikan oleh puskesmas. Mereka harus mencatat data yang tepat pada setiap kunjungan. Bila ditemukan kelainan, mereka harus mampu mengambil tindakan yang diperlukan dan merujuknya untuk tindakan selanjutnya.
  • Standar III: Palpasi Abdominal
Bidan melakukan pemeriksaan abdominal secara seksama dan melakukan palpasi untuk memperkirakan usia kehamilan bertambah, memeriksa posisi, bagian terendah janin, dan masuknya kepala janin ke dalam rongga panggul untuk mencari kelainan, serta melakukan rujukan tepat waktu. 
  • Standar IV: Pengelolaan Anemia pada Kehamilan
Bidan  melakukan tindakan pencegahan, penemuan, penanganan dan/atau rujukan semua kasus anemia pada kehamilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  • Standar V: Pengelolaan Dini Hipertensi pada Kehamilan 
Bidan menemukan secara dini setiap kenaikan tekanan darah pada kehamilan, mengenali tanda dan gejala preeklampsia lainnya, mengambil tindakan yang tepat, dan merujuknya.
  • Standar VI: Persiapan Persalinan 
Bidan memberikan saran yang tepat kepada ibu hamil, suami, dan keluarganya pada trimester ketiga untuk memastikan bahwa persiapan bersih dan aman, serta suasana yang menyenangkan akan direncanakan dengan baik, di samping persiapan transportasi dan biaya yang merujuk, bila tiba-tiba terjadi keadaan gawat darurat. Oleh karena itu, bidan sebaiknya melakukan kunjungan rumah. 

Minggu, 11 Desember 2011

Konsep Dasar Asuhan Kehamilan

Tujuan utama asuhan kehamilan adalah untuk memfasilitasi hasil yang sehat dan positif bagi ibu maupun bayinya dengan cara membina hubungan percaya dengan ibu, mendeteksi komplikasi-komplikasi yang dapat mengancam jiwa, mempersiapkan kelahiran, dan memberikan pendidikan. Asuhan antenatal penting untuk menjamin agar proses alamiah atau komplikasi setiap saat. Sekarang ini secara umum  telah diterima bahwa setiap saat kehamilan membawa risiko bagi ibu. WHO memperkirakan bahwa sekitar 15% dari seluruh wanita yang hamil akan berkembang menjadi komplikasi yang berkaitan dengan kehamilannya serta dapat mengancam jiwa.
Filosofi Asuhan Kehamilan
Filosofi adalah pernyataan mengenai keyakinan dan nilai/value yang dimiliki, serta berpengaruh terhadap perilaku seseorang/kelompok (Pearson dan Vaughan, 1986). Filosofi asuhan kehamilan menggambarkan keyakinan yang dianut oleh bidan dan dijadikan sebagai panduan yang diyakini dalam memberikan asuhan kebidanan pada klien selama masa kehamilan. Dalam filosofi asuhan kehamilan ini dijelaskan beberapa keyakinan yang akan mewarnai asuhan tersebut.
Kehamilan merupakan proses yang alamiah. Perubahan-perubahan yang terjadi pada wanita selama kehamilan normal adalah bersifat fisiologis bukan patologis. Oleh karenanya, asuhan yang diberikan pun adalah asuhan yang meminimalkan intervensi. Bidan harus memfasilitasi proses alamiah dari kehamilan dan menghindari tindakan-tindakan yang bersifat medis yang tidak terbukti manfaatnya.
Lingkup asuhan kehamilan meliputih komponen-komponen di bawah ini:
  • Diagnosis dan manajemen awal dari kehamilan
  • Penilaian dan evaluasi kesejahteraan dan kesehatan wania.
  • enilaian dan evaluasi kesejahteraan dan kesehatan janin.
  • Keringanan tindakan untuk kegelisahan kehamilan yang umum.
  • Mengantisipasi bimbingan dan instruksi.
  • Skrining komplikasi maternal dan janin.
Asuhan kehamilan mengutamakan kesinambungan pelayanan (Continuity of care). Hal ini sangat penting bagi wanita untuk mendapatkan pelayanan dari seorang professional yang sama atau dari satu tim kecil tenaga professional sehingga perkembangan kondisi mereka setiap saat akan terpantau dengan baik selain mereka juga menjadi lebih percaya dan terbuka karena merasa sudah mengenal si pemberi asuhan (Enkin, 2000).
Pelayanan yang terpusat pada wanita (women centered) serta keluarga (family centered). Wanita menjadi pusat asuhan kebidanan dalam arti bahwa asuhan yang diberikan harus berdasarkan pada kebutuhan ibu, bukan kebutuhan dan kepentingan bidan. Asuhan yang diberikan hendaknya tidak hanya melibatkan ibu hamil saja melainkan juga keluarganya, dan itu sangat penting bagi ibu sebab keluarga menjadi bagian integral/tak terpisahkan dari ibu hamil. sikap, perilaku, dan kebiasaan ibu hamil sangat dipengaruhi oleh keluarga. Kondisi yang dialami oleh ibu hamil juga akan memengaruhi seluruh anggota keluarga. Selain itu, keluarga juga merupakan unit social yang terdekat dan dapat memberikan dukungan yang kuat bagi anggotanya (Lowdernilk, Perry, dan Bobak, 2000). Dalam hal pengambilan keputusan haruslah merupakan kesepakatan bersama antara ibu, keluarganya, dan bidan, dengan ibu sebagai penentu utama dalam proses pengambilan keputusan. Ibu mempunyai hak dalam memilih dan memutuskan kepada siapa dan di mana ia akan memperoleh pelayanan kebidanan.
Asuhan kehamilan menghargai hak ibu hamil untuk berpartisipasi dan memperoleh pengetahuan/pengalaman yang berhubungan dengan kehamilannya. Tenaga professional kesehatan tidak mungkin terus-menerus mendampingi dan merawat ibu hamil, oleh karena itu ibu hamil perlu mendapat informasi dan pengalaman agar dapat merawat diri sendiri secara benar. Perempuan harus diberdayakan untuk mampu mengambil keputusan tentang kesehatan diri dan keluarganya melalui tindakan KIE dan konseling yang dilakukan bidan.

Sabtu, 10 Desember 2011

Tinjauan Filosofi dalam Ilmu Kebidanan

Ilmu atay science adalah suatu studi atau pengetahuan yang sistematik untuk menerangkan suatu fenomena dengan acuan materi dan fisiknya melalui metode ilmiah (Hutchinson, 1994).
Setiap pengetahuan mempunyai tiga komponen yang merupakan tiang penyanggah tubuh pengetahuan yang disusun. Komponen tersebut adalah ontology, epostemologi, dan aksiologi.
1.      Pendekatan ontology
Secara ontology, ilmu membatasi lingkup penelaah keilmuannya hanya berada pada daerah-daerah dalam jangkauan pengalaman manusia. Pendekatan ontology adalah penafsiran yang hakikatnya realitas dari objek ontology keilmuan. Secara metafisika, ilmu terbatas dari nilai-nilai yang bersifat dogmatic. Suatu pernyataan dapat diterima sebagai premis dalam argumentasi ilmiah setelah melaui pengkajian/penelitian berdasarkan epistemology keilmuan.
2.      Pendekatas epistemology
Landasan epistemology ilmu tercermin secara operasional dalam metode ilmiah. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuannya berdasarkan hal-hal berikut:
·         Kerangka pemikiran
·         Menjabarkan hipotesis
·         Melakukan verifikasi
3.      Pendekatan aksiologi
Aksiologi keilmuan menyangkut nilai-nilai yang berkaitan dengan pengetahuan ilmiah baik secara internal, eksternal, maupun social. Nilai internal berkaitan dengan wujud dan kegiatan ilmiah dalam memperoleh pengetahuan tanpa mengesampingkan fitrah manusia. Nilai eksternal menyangkut nilai-nilai yang berkaitan dengan penggunaan pengetahuan ilmiah. Nilai social menyangkut pandangan masyarakat yang menilai keberadaan suatu pengetahuan dan profesi tertentu.
4.      Tanggung jawab ilmuwan (professional dan moral)
Pendekatan ontology, aksiologi, dan epistemology memberikan 18 asas moral yang terkait dengan kegiatan keilmuan. Keseluruhan asas moral ini pada hakikatnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu kelompok asas moral yang membentuk tanggung jawab professional dan kelompok tanggung jawab social. Tanggung jawab social professional ditujukan kepada masyarakat keilmuan dalam mempertanggungjawabkan moral yang berkaitan dengan landasan epistemology, sedangkan tanggung jawab social yaitu pertanggungjawaban keilmuan terhadap masyarakat yang menyangkut asas moral mengenai pemilihan etis terhadap objek penelaahan keilmuan dan penggunaan pengetahuan ilmiah.

DAFTAR PUSTAKA
Dewi, Vivian Nanny Lia dan Sunarsih, Tri. 2011. Asuhan Kehamilan untuk Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika

Kamis, 01 Desember 2011

Filosofi Kebidanan

Falsafah kebidanan merupakan pandangan hidup atau penuntun bagi bidan dalam memberikan pelayanan (IBI, 2003). Filosofi kebidanan merupakan keyakinan atau pandangan hidup bidan yang digunakan sebagai kerangka pikir dalam memberikan asuhan kepada klien, yaitu sebagai berikut:
1.      Keyakinan tentang kehamilan dan persalinan.
Bidan yakin bahwa kehamilan, persalinan, dan kelahiran adalah proses alamiah namun harus tetap waspada.
2.      Keyakinan tentang perempuan.
Bidan yakin bahwa setiap perempuan merupakan pribadi yang unik, tidak sama baik fisik, emosional, spiritual, dan budayanya. Dia punya hak untuk mengontrol baik fisik, emosional, spiritual, dan kebutuhannya patut dihormati.
3.      Keyakinan mengenai fungsi profesi dan pengaruhnya.
Fungsi utama dari asuhan kebidanan adalah memastikan kesejahteraan janin dan ibunya. Bidan mempunyai kemampuan untuk memengaruhi klien dan keluarganya. Proses fisilogi normal harus dihargai dan dipertahankan, bila bermasalah gunakan teknologi tepat guna dan rujuk bila perlu.
4.      Keyakinan tentang pemberdayaan dan membuat keputusan.
Bidan yakin bahwa pilihan dan keputusan dalam asuhan terhadap perempuan patut dihormati. Keputusan merupakan tanggung jawab bersama antara perempuan, keluarga, dan pemberi asuhan. Perempuan punya hak untuk memilih dan memutuskan tentang pemberian asuhan dan tempat melahirkan.
5.      Keyakinan tentang asuhan.
Bidan yakin bahwa focus asuhan kebidanan adalah upaya pencegahan dan peningkatan. Bidan yakin bahwa kesehatan secara menyeluruh, meliputi pemberian informasi yang relevan dan objektif, konseling, serta memfasilitasi klien yang menjadi tanggung jawabnya. Asuhan harus diberikan dengan keyakinan bahwa dengan dukungan dan perhatian, perempuan akan bersalin aman dan selamat. Oleh karena itu, asuhan kebidanan harus aman, memuaskan, menghormati, serta memberdayakan perempuan dan keluarganya.

Sabtu, 26 November 2011

Latar Belakang


Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan ibu bersalin adalah masalah terbesar di Negara berkembang. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi factor utama mortalitas wanita muda pada masa puncak produktivitas. Pada tahun 2003, Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) memperkirakan ±13.778 ibu meninggal setiap tahunnya. Bila dikalkulasi dalam hitungan hari, terdapat 38 orang yang meninggal dan bola dalam hitungan jam ada 2 orang ibu yang meninggal setiap jamnya (Suara Pembaruan, Jum’at 8 April, 2005)
Tingginya angka kematian tersebut dikarenakan masih banyak ibu-ibu di Indonesia saat melahirkan tidak ingin meminta pertolongan persalinan terlatih. Mereka menganggap bahwa penolong persalinan yang terlatih tidak benar-benar memperhatikan kebutuhan atau kebudayaan, tradisi, serta keinginan pribadi para ibu dalam persalinan dan kelahiran bayinya. Alasan lain adalah sebagian besar fasilitas kesehatan memiliki peraturan dan prosedur yang asing dan menakutkan bagi para ibu.

Kamis, 24 November 2011

Pengertian Promosi Kesehatan

The process of enabling people to control over and improve their health, WHO. Adalah proses atau upaya pemberdayaan masyarakat untuk dapat memelihara dan meningkatkan kesehatannya.
pengertian lain:
  1. Promosi kesehatan bagian dari upaya kesehatan (Public health) secara keseluruhan, yang menekankan pada pemberdayaan masyarakat, yaitu upaya meningkatkan, memampukan masyarakat. Untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatan, yang lebih bersifat upaya promotif, preventif tanpa mengesampingkan upaya kuratif dan rehabilitatif. 
  2. Pemberdayaan dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat, disertai dengan mengembangkan iklim yang mendukung, sehingga penekanan Promosi Kesehatan pada pengembangan perilaku dan lingkungan sehat. 
  3. Pembedayaan tersebut merupakan upaya kemitraan berbagai pihak dan merupakan upaya dari, oleh dan untuk bersama masyarakat, sehingga masyarakat aktif sebagai pelaku atau subyek, bukan pasif  menunggu objek semata. 
  4. Pemberdayaan dilakukan sesuai dengan kondisi dan budaya setempat, sehingga promosi kesehatan diwarnai suasana lokal.
  5. Dalam promosi kesehatan nuansa kesehatan menjadi lebih kental, suasana kemitraan menjadi lebih nampak dan keberadaan masyarakat sebagai subyek menjadi lebih menonjol.
promosi kesehatan adalah kombinasi berbagai dukungan menyangkut pendidikan, organisasi, kebijakan dan peraturan perundangan untuk perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan (Green dan Ottoson, '98).
Promosi kesehatan adalah proses pemberdayaan masyarakat agar mampu memelihara dan meningkatkan kesehatannya. (definisi yang selama ini dipakai oleh pusat promosi kesehatan) .
Proses pemberdayaan tersebut dilakukan dengan pembelajaran, yaitu upaya untuk meningkatkan kesehatan, kemauan dan kemampuan dalam bidang kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA
Syafrudin, dan Fratidhina Yudhia.2009.Promosi kesehatan untuk mahasiswa kebidanan.Jakarta: CV. Trans Info Media